Siapakah target serangan teroris?

Ketika serangan teroris terjadi, kebanyakan orang merespons dengan rasa takut. Kebanyakan orang akan menetap di rumah karena takut akan...


Ketika serangan teroris terjadi, kebanyakan orang merespons dengan rasa takut. Kebanyakan orang akan menetap di rumah karena takut akan adanya serangan susulan yang bisa saja menimpa mereka. Kita percaya bahwa serangan teroris seringkali bersifat sporadis dan tidak menyasar kelompok tertentu. Namun, sejumlah kejadian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kepercayaan tersebut tidaklah benar. 

Kebanyakan serangan teroris memiliki sasaran tertentu. Di indonesia, tren akhir-akhir ini menunjukkan bahwa mayoritas serangan teroris diluncurkan di kantor polisi. Selain itu, sasaran umum serangan teroris lainnya adalah gereja, seperti yang terjadi di Surabaya, dimana 3 gereja dibom pada hari yang sama. Target-target ini tentu dapat dijelaskan dengan menganalisis motif ideologis teroris (contoh: polisi diserang karena merepresentasikan pemerintahan yang "opresif", gereja diserang karena merepresentasikan 'kekafiran'). Namun, alasan dibalik pemilihan sasaran juga dapat dijelaskan melalui potensinya dalam memicu rasa ketakutan berskala nasional. 

Kebanyakan serangan dilakukan di perkotaan ketimbang pedesaan. Serangan teroris seringkali dilakukan di tempat-tempat mewah seperti pusat perbelanjaan (Contohnya, penyerangan gerai Starbucks di Jakarta, 2016) dan hotel (Penyerangan Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton, 2009) daripada dilakukan di stadion sepak bola. 

Bagi teroris, serangan yang efektif adalah serangan yang berhasil memicu liputan berskala nasional dan menyebarkan rasa takut ke seluruh penjuru negara. 

Karakteristik serupa dari penyerangan yang penulis senaraikan di atas adalah ia berlokasi di tengah kota-kota metropolitan yang dipenuhi masyarakat kelas atas. Meskipun dijaga ketat oleh sistem keamanan, para teroris masih menjadikan tempat-tempat ini sebagai sasaran penyerangan. Kita belum pernah mendengar serangan teroris dilakukan di daerah kumuh, Warung Kopi atau sebuah stadion sepak bola. Padahal akan sangat mudah bagi teroris untuk melancarkan aksinya di tempat-tempat semacam itu. Tempat umum seperti ini sangat mudah diserang karena sistem keamanannya yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Tetapi tidak, teroris masih lebih memilih Starbucks dan hotel yang dijaga dengan ketat. Mungkin fenomena ini ada hubungannya dengan tingkat perhatian yang didapatkan dari serangan: sebuah ledakan bom di daerah kumuh akan mendapatkan liputan media yang lebih sedikit dibandingkan sebuah ledakan yang sama di hotel bintang lima. 

Mengapa? Apakah media sengaja melakukan diskriminasi terhadap kaum miskin? 

Fenomena demikian memiliki keterkaitan dengan bagaimana kematian dan hidup manusia diperlakukan dan dihargai. Di kawasan metropolitan kehidupan sangatlah dihargai, dalam artian bahwa kematian dipandang sebagai sebuah tragedi: kematian adalah kejadian yang sebenarnya dapat dihindari dan tidak perlu terjadi. Ketika seorang warga kota wafat, irang terdekat korban tentu berduka, tetapi pada saat yang bersamaan, mereka mencoba untuk bernalar: apa yang salah. Ketika seseorang wafat karena suatu penyakit, mereka meminta pertanggungjawaban dokter, apakah ada kemungkinan malpraktik. Ketika seseorang terbunuh, mereka mencari keadilan. Ketika seseorang wafat, pasti ada suatu kesalahan. Ketika seorang teroris berhasil melancarkan aksinya, pasti ada yang salah. Dengan pola pikir demikian, satu kematian yang kontroversial cukup membangkitkan sensasi media. 

Sementar logika di daerah kumuh sangat jauh berbeda. Kematian adalah kejadian yang normal. Pemakaman adalah pemandangan sehari-hari. Taka da yang istimewa dari suatu kematian. Masyarakat ini terbiasa melihat hilangnya nyawa dalam keseharian mereka, seringkali, karena alasan yang tidak masuk akal. Tawuran antar-geng, terkadang antara pendukung klub sepak bola atau siswa antar-sekolah telah menghilangkan lebih banyak nyawa dibandingkan serangan teroris tetapi tidak pernah menarik perhatian media. Jadi, ketika serangan teroris diluncurkan di daerah kumuh dan membunuh katakanlah 20 nyawa, tidak akan mendapatkan perhatian sebanyak ketika 20 nyawa terbunuh di sebuah pusat perbelanjaan. 

Ketika tujuan utama teroris sebenarnya bukan untuk membunuh sebanyak-banyaknya nyawa, melainkan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya perhatian, menyerang pusat perbelanjaan dan hotel akan lebih masuk akal daripada menyerang sebuah stadion sepak bola.

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Siapakah target serangan teroris?
Siapakah target serangan teroris?
https://3.bp.blogspot.com/-d525KPFwkfc/XFq1lEUydsI/AAAAAAAAAXY/ycSCwLHUWy0IPIKvqVBJUuZL2sU4FF9QQCLcBGAs/s640/protest-1273818_1920.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-d525KPFwkfc/XFq1lEUydsI/AAAAAAAAAXY/ycSCwLHUWy0IPIKvqVBJUuZL2sU4FF9QQCLcBGAs/s72-c/protest-1273818_1920.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2019/02/siapakah-target-serangan-teroris.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2019/02/siapakah-target-serangan-teroris.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy