Radikalisasi Masyarakat Perkotaan

Menanggapi perdebatan di debat calon presiden dan calon wakil presiden beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk menerbitkan kembali tul...


Menanggapi perdebatan di debat calon presiden dan calon wakil presiden beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk menerbitkan kembali tulisan yang pernah saya tulis di Seruni Post hampir setahun yang lalu. Artikel ini ditulis pasca kejadian pengeboman di Surabaya. Hampir setahun berlalu, tulisan ini masih relevan bahkan semakin relevan untuk menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut dua yang menawarkan pengentasan kemiskinan sebagai solusi pemberantasan terorisme.

Narasi kemiskinan sebagai faktor utama dari menyebarluasnya ideologi radikal yang menjustifikasi terrorisme masih diterima mentah-mentah baik oleh masyarakat maupun pemerintah, pembuat kebijakan (eksekutif dan legislatif). Bahkan Fadli Zon mencuit 

“Terorisme biasanya bkembang di negara yg lemah pemimpinnya, mudah diintervensi, byk kemiskinan n ketimpangan dan ketidakadilan yg nyata.”

Namun, nyatanya, para pelaku terror di Surabaya baru-baru ini berasal dari keluarga kelas menengah di daerah perkotaan. Keluarga Dita-Puji tergolong cukup mapan dari segi ekonomi. Mereka bertempat tinggal layak, mampu berwisata saat liburan, serta menguasai teknologi. Berdasarkan ulasan Tirto, korelasi antara kemiskinan dan radikalisasi dapet dibantah.

Lalu, jika bukan kemiskinan, maka apa? Menurut saya, salah satu faktor mudahnya penyebaran paham radikal adalah interaksi sosial di masyarakat. Beberapa aksi teror belakangan ini melibatkan warga kelas menengah yang hidup di daerah perkotaan. Seringkali setelah kejadian terorisme, wartawan menyerbu kediaman pelaku dan mewawancarai tetangga-tetangga pelaku. Seringkali pula, tetangga-tetangga menjawab “Saya tak menyangka dia teroris”.

Dalam masyarakat perkotaan, terutama kompleks-kompleks perumahan modern, kita hidup secara individualis. Dalam masyarakat perkotaan, setiap warga mempunyai pekerjaan masing-masing. Kerja dalam mode produksi kapitalisme menyebabkan keterasingan. Bagaimana tidak, setiap warga berangkat kerja dari jam delapan pagi dan pulang ke rumah jam empat sore, belum lagi menghitung waktu perjalanan pulang-pergi. Akibatnya, waktu luang untuk kegiatan-kegiatan masyarakat sangat terbatas. Pengawasan antar warga sangat terbatas. Warga bersifat apatis terhadap tetangganya sendiri, bahkan mungkin tidak saling mengenal.

Pola aksi terorisme yang marak terjadi belakangan ini bersifat lone-wolf. Lone-wolf tidak bekerja dalam suatu komando yang rigid serta tidak menerima bantuan material dari kelompok tertentu. Mereka menerima pengaruh paham-paham radikal dari kelompok tertentu lalu kemudian bertindak sendiri sebagai algojo kelompok tersebut. 

Penyebaran paham-paham radikal ini dapat dijelaskan dengan meneliti pola interaksi masyarakat perkotaan. Meski relatif stabil secara ekonomi, kelompok kelas menengah menghadapi tekanan-tekanan kerja yang berat. Sebagai makhluk sosial, setiap manusia perlu menyalurkan rasa frustasi ini. Namun, ketika warga sekitarnya tidak dapat mengakomodasi, individu akan mencari-cari saluran-saluran lain. Fenomena ini yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal yang menjanjikan memberikan kepuasan spiritual.

Fenomena ini sangat berbeda dengan masyarakat pedesaan yang biasanya mempunyai jam kerja yang lebih senggang. Warga desa secara berkala mengadakan pertemuan rutin baik itu pertemuan kelompok tani, PKK, bahkan pengajian rutin. Meski berpendapatan relatif rendah, dengan pendekatan komunal, rasa frustasi dapat terobati. Beban pikiran setiap warga diakomodasi oleh sesama warga maupun perangkat desa ataupun dusun. Sistem-sistem komunal seperti simpan pinjam, koperasi, serta arisan rutin dapat memberikan kelegaan bukan hanya secara material tetapi juga spiritual. Dalam pola interaksi warga desa, setiap warga mendapat pengawasan dari warga lainnya.

Oleh itu, salah satu upaya penanganan terorisme hendaklah dimulai dari ranah sosial-kemasyarakatan. Pertemuan rutin harus diintesifikasi untuk memperbaiki hubungan antar warga untuk menangkal pengaruh-pengaruh buruk gerakan-gerakan radikal. Warga seharusnya mengawasi satu sama lain dan menjadi supporting system bagi warga lainnya sehingga tidak ada lagi ruang untuk kelompok radikal mengelabui kita dengan iming-iming tak jelas.

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Radikalisasi Masyarakat Perkotaan
Radikalisasi Masyarakat Perkotaan
https://3.bp.blogspot.com/-CNkDDKrRiUM/XE8cTqXUbpI/AAAAAAAAAVU/8liSVuWdjcUu7K03ofv-auHV6ma-3EUzwCLcBGAs/s640/terror-attack-349913_1280.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-CNkDDKrRiUM/XE8cTqXUbpI/AAAAAAAAAVU/8liSVuWdjcUu7K03ofv-auHV6ma-3EUzwCLcBGAs/s72-c/terror-attack-349913_1280.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2019/01/radikalisasi-masyarakat-perkotaan.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2019/01/radikalisasi-masyarakat-perkotaan.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy