Emotional Labor di Era Media Sosial

Di era media sosial merajalela, industri hiburan tak seperti dulu. Perubahan industri hiburan di era media sosial dapat memperparah fenomena alienasi emotional labor dalam kapitalisme. Beberapa perubahan yang terjadi akibat media sosial adalah batas-batas kehidupan personal dan kehidupan professional semakin kabur.



Kapitalisme bisa dan akan menjual semuanya, apa pun itu; barang dan jasa semuanya kini dikomodifikasi. Kini, bukan hanya barang yang bersifat fisik yang dijual tetapi juga barang digital (digital goods). Selain barang, emosi pun kini dijual.

Tentu ketika sesuatu dijadikan komoditas, perlu adanya tenaga kerja yang memproduksi komoditas tersebut. Ketika perusahaan menjual perabotan, tentu ada proses produksi yang berlangsung; mengubah kayu-kayu menjadi almari, kursi, meja yang kemudian dijual. Proses produksi tentu membutuhkan tenaga buruh. Begitu juga jasa. Ketika kita ke panti pijat, tentu ada tukang pijat di sana. Tukang pijat adalah buruh yang menghasilkan pijat sebagai komoditas.

Menurut Marx, dalam sistem kapitalisme, ketika seseorang menjadi buruh, ia mengalami alienasi. Ia teralienasi dari aktivitas produksi. Alienasi buruh dari aktivitas produksi bermaksud buruh menghadapi aktivitas pekerjaan yang asing baginya. Buruh menghadapi aktivitas pekerjaan yang asing bagi dirinya. Buruh tidak mempunyai pilihan mengenai apa yang diproduksi, bagaimana komoditas diproduksi, apa yang ia kerjakan. Konsekuensinya buruh terasingkan dari aktivitasnya, ia tidak mengerjakan apa yang ia ingin kerjakan tetapi apa yang ia dipaksa untuk kerjakan. Hasilnya, buruh tidak dapat menikmati pekerjaannya, dan hanya merasakan dirinya di luar pekerjaannya.
Di dua kasus yang dijelaskan di atas, untuk memproduksi barang dan jasa yang berbentuk fisik, buruh menggunakan fisiknya, atau dalam kata lain physical labor. Tetapi dalam evolusinya, kapitalisme tak selalu mengkomodifikasi hal yang bersifat fisik. Penulis buku juga merupakan buruh, tetapi yang ia kerjakan bersifat mental labor. Apa jadinya ketika yang dijual adalah emosi? Bisnis apa yang menjual emosi?

Bisnis jasa, seperti misalnya restoran, pelayanan kesehatan dan maskapai adalah bisnis yang menjual emosi. Ia tak hanya menjual jasa makanan, memproduksi obat-obatan atau menerbangkan penumpang. Kenyamanan pengguna jasa menjadi hal penting dalam bisnis jasa. Buruhnya, perawat dan pramugari dituntut untuk memberikan jasa sebaik mungkin agar pengguna jasa merasa nyaman. Selain menjalankan physical dan mental labor, buruh ini juga menjalankan emotional labor.
Ketika buruh menjalankan emotional labor, ia juga mengalami alienasi dari aktivitas produksi sama halnya dengan buruh yang menjalan physical dan emotional labor. Ia teralienasi dari emosinya sendiri. Emotional labor memang sering disalah artikan. Tak semua pekerjaan rumahan seperti mencuci dan memasak adalah emotional labor. Konsep emotional labor, menurut definisi sosiolog yang pertama mengemukakannya, Arlie Hochschild adalah pekerjaan yang memaksa seseorang untuk mengatur emosinya sendiri. Pramugari misalnya, harus terus tersenyum dan ramah meski nyatanya ia sedang stress. Begitu pula perawat, pelayan dan petugas customer service yang sering dimaki-maki pengguna jasa.

Komodifikasi emosi tak hanya terbatas pada model bisnis restoran dan pelayanan. Banyak perusahaan terutama di industri hiburan menjual emosi dengan lebih ekstrim lagi. Contohnya group idol AKB 48 dan jaringannya. Seperti dijelaskan di artikel Tirto yang satu ini, group idol AKB 48 dan jaringannya menjual cinta. Komodifikasi afeksi terjadi ketika yang dijual oleh bisnis tersebut bukanlah CD dan lagu-lagu serta persembahan dalam teater, tetapi suatu hubungan parasosial antara penggemar dan idolanya. Hubungan parasosial adalah ilusi hubungan interpersonal antara penggemar dan idola. Artikel tersebut memaparkan model bisnis dari group idol AKB 48. Perusahaan membentuk hubungan parasosial dengan (1) melibatkan penggemar dalam pembuatan keputusan, misalnya siapa yang akan membawakan lagu A dan siapa yang akan tampil di penampilan grup tersebut, dan (2) mengadakan event yang mengakrabkan penggemar dan idolanya seperti handshake event, di mana penggemar dapat menemui langsung dan berjabat tangan dengan sang idola.

Mengutip artikel Tirto yang menjelaskan hubungan parasosial

"Dalam hubungan parasosial, idola dipandang sebagai persona atau karakter publik, bukan manusia seutuhnya yang kompleks dan tidak selalu menarik, dan persona itu dibentuk oleh para penggemar demi memenuhi kebutuhan psikologis mereka."

Sebenarnya hubungan parasosial sudah ada bahkan sebelum AKB 48 muncul. Program infotainment di televisi sudah ada sejak lama. Program infotainment yang kerap kali mengirim paparazzi untuk menguntit kehidupan personal para selebriti juga telah membentuk hubungan parasosial tersebut. Sang selebriti harus tampak terhubung dengan para penggemarnya. 

Ketika seseorang menjalani kehidupan selebriti ia juga terlibat dalam emotional labor. Ia harus tampak ramah dan tetap tersenyum meski ia Lelah menghadapi para penggemar. Group idol AKB 48 dan jaringannya memang merupakan versi yang lebih ekstrim lagi. Idol sebagai anggota kelompok harus mematuhi berbagai larangan, misalnya, dilarang pacaran, demi memenuhi fantasi para penggemar. Aturan-aturan tersebut sangat terkait erat dengan patriarki. Artikel dari Merah Muda Memudar mencoba menjelaskan pengaruh patriarki terhadap aturan-aturan group idol AKB 48 dan jaringannya.

“Mayoritas dari tipe idol adalah idol yang imut, polos dan manja. Gambaran sifat kekanak-kanakan ini sengaja dipilih karena menunjukkan para idol sebagai sosok yang harus bergantung pada laki-laki untuk menuntun mereka dalam hidup (kedengaran familiar ya? Dasar patriarki). Hal lain yang harus mereka lakukan adalah mereka harus terus menunjukan sikap ramah dan banyak tersenyum, menunjukkan bahwa mereka perempuan yang siap 24/7 untuk memuaskan hasrat fans akan perempuan yang ramah dan baik hati — sesuatu yang mungkin jarang mereka temui di kehidupan sehari-hari mereka. Jangan sampai mereka menjadi gemuk, berjerawat, terlihat jelek atau terlihat tidak lemah lembut karena akan berakibat pada para fans tidak bisa berfantasi berpacaran dengan idol itu nanti.”

Di era media sosial merajalela, industri hiburan tak seperti dulu. Perubahan industri hiburan di era media sosial dapat memperparah fenomena alienasi emotional labor dalam kapitalisme. Beberapa perubahan yang terjadi akibat media sosial adalah batas-batas kehidupan personal dan kehidupan professional semakin kabur.

Media sosial semakin membuka ruang untuk agensi industri hiburan untuk membangun hubungan parasosial antara idola dan penggemannya. Media sosial para idola dapat diakses oleh penggemar tanpa harus bertemu langsung. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang pribadi untuk berbagi hal-hal yang bersifat pribadi kini diinvasi. Privasi tak lagi dilindungi, malah diinvasi oleh kepentingan-kepentingan bisnis. Lihat saja akun media sosial para pekerja industri hiburan. Ia terpaksa membangun citra di hadapan para penggemarnya, memenuhi fantasi-fantasi idealisme mereka di setiap waktu. Mereka harus membalas direct message ataupun mention dari para penggemar agar tetap terhubung.

Alienasi yang dijelaskan Marx adalah bagaimana seorang buruh tak dapat merasakan dirinya dalam pekerjaannya. Ia merasakan dirinya di luar pekerjaannya. Setidaknya seorang pelayan dan pramugari dapat mengekspresikan dirinya di luar jam kerja. Tetapi bagaimana pula dengan para selebriti yang setiap waktu, setiap gerak geriknya adalah pekerjaannya yang selalu diawasi para penggemar via media sosial?

Alienasi seperti ini tak hanya terjadi pada anggota kelompok AKB 48 dan jaringannya, tetapi juga pada selebriti mana pun di indusri hiburan. Ia harus memenuhi fantasi dan idealisme penggemar. Idealisme penggemar tidak homogen, penggemar memang berbeda-beda. Setiap selebriti di industri hiburan memiliki demografi audiens yang berbeda. Tak semuanya harus memenuhi fantasi kekanak-kanakan seperti halnya AKB 48. Ada pula selebriti yang membangun citra keluarga harmonis dengan memamerkan kehidupannya dan keluarga serta anaknya di media sosial. Ada pula selebriti yang membangun citra #relationshipgoals dengan memamerkan kemesraannya. Bahkan ada pula selebriti yang membangun citra kontroversial dengan mengundah video tangisannya di media sosial. Semuanya di buat-buat demi memenuhi fantasi-fantasi para penggemar. Tak heran jika banyak penggemar yang terkejut apabila seorang selebriti idolanya tidak memenuhi ekspektasinya, ketika pasangan ideal mereka bercerai misalnya. Namun, keterkejutan penggemar biasanya tak bertahan lama dan opresi tetap berlanjut. Dalam sistem kapitalisme, setiap buruh berkompetisi dengan sesamanya. Jika satu selebriti gagal mempertahankan citra idealnya, akan ada seleb lain yang akan menggantikannya. Penggemar pun akan berpindah semudah mengklik tombol unfollow di profil media sosial seleb gagal tersebut.

Evolusi kapitalisme yang mengkomodifikasi emosi serta afeksi telah menyebabkan kesengsaraan bagi para pekerja industri hiburan. Ditambah pula dengan keberadaan media sosial yang mengekspos kehidupan sehari-hari para buruh industri, yang menghilangkan batas-batas kehidupan privat dan publik, kehidupan pribadi dan pekerjaan, kehidupan selebriti semakin sengsara. Tanpa kesadaran masyarakat untuk bersimpati dan melawan opresi ini, sepertinya dalam waktu dekat kehidupan mereka tak akan lebih baik.



Referensi

Dea Anugerah, Jatuh Cinta kepada Anggota JKT48 itu Biasa Saja, Tirto.id, 27 Maret 2017, https://tirto.id/jatuh-cinta-kepada-anggota-jkt48-itu-biasa-saja-clEi

Charlie Sanjata, Jual Beli Cinta A la JKT48 dan AKB48, Merah Muda Memudar, 5 Mei 2017, https://medium.com/merah-muda-memudar/jual-beli-cinta-a-la-jkt48-dan-akb48-1db82727711

Marx, Karl. Capital: A Critique of Political Economy, Volume I. Moscow: Progress Publisher, 1887.

Marx, Karl. Economic & Philosophic Manuscript of 1844. Moscow: Progress Publisher, 1959

Julie Beck, The Concept Creep of ‘Emotional Labor’, The Atlantic, 26 November 2018, https://www.theatlantic.com/family/archive/2018/11/arlie-hochschild-housework-isnt-emotional-labor/576637/

Gambar sampul: Tribunnews

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Emotional Labor di Era Media Sosial
Emotional Labor di Era Media Sosial
Di era media sosial merajalela, industri hiburan tak seperti dulu. Perubahan industri hiburan di era media sosial dapat memperparah fenomena alienasi emotional labor dalam kapitalisme. Beberapa perubahan yang terjadi akibat media sosial adalah batas-batas kehidupan personal dan kehidupan professional semakin kabur.
https://1.bp.blogspot.com/-oNKtTr12TxI/XCH49DGusAI/AAAAAAAALqY/2x5RmbpnQi8TQP9Qldfzk_cxnKzsQ4WBACLcBGAs/s320/via-vallen_20180914_114018.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-oNKtTr12TxI/XCH49DGusAI/AAAAAAAALqY/2x5RmbpnQi8TQP9Qldfzk_cxnKzsQ4WBACLcBGAs/s72-c/via-vallen_20180914_114018.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2019/01/emotional-labor-di-era-media-sosial.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2019/01/emotional-labor-di-era-media-sosial.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy