Bahasa, Miskomunikasi dan Konflik

Pesan masih terdiri dari gabungan kata-kata. Setiap kata mengandung suatu konsep yang ingin disampaikan penyampai. Pesan yang disampaikan, baik melalui surat, kode morse, maupun Whatsapp, masih berbentuk sedemikian rupa. Kecanggihan teknologi meningkatkan intensitas komunikasi tetapi bukan berarti miskomunikasi tidak lagi terjadi.


Sepanjang sejarah peradaban manusia, komunikasi antar sesama adalah hal krusial. Manusia menguasai dunia bukan karena ia memiliki otot yang besar atau daya tahan tubuh yang kuat, tetapi karena manusia memiliki suatu medium komunikasi yang canggih. 

Pernyataan ini bukan berarti bahwa hewan tak punya medium komunikasi. Hewan juga dapat berkomunikasi antar sesamanya. Namun, komunikasinya tak secanggih manusia. Komunikasi antar-hewan hanya dapat menyampaikan pesan yang secara nyata terjadi. Misalkan, seekor rusa dapat menyampaikan pada rekan-rekannya bahwa tadi ia melihat singa sedang berjalan menuju mereka. 

Komunikasi manusia jauh lebih kompleks. Manusia bisa menyampaikan pesan yang tidak secara nyata ada. Ia dapat berimajinasi lalu menyampaikan imajinasinya kepada sesama manusia. Imajinasi menjadi hal krusial untuk membentuk suatu konsep berasama, seperti negara, perusahaan dan uang. Ketiga hal ini tak mempunyai nilai konkrit. Ia ada karena kita bersama-sama berimajinasi. 

Komunikasi imajinasi seperti contoh-contoh di atas adalah prasyarat terbentuknya organisasi sosial yang besar dan kompleks antar manusia. Tanpa imajinasi negara, bagaimana seseorang bisa bekerjasama dengan seseorang yang asing, yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Negara sebagai suatu komunitas terbayang (imagined communities), menyatukan mereka. Mereka pun akan berperang melawan bangsa penjajah, bahkan rela mati demi satu sama lain karena mereka memiliki imajinasi yang serupa. Selain negara, imajinasi uang juga tak kalah krusial. Tanpa konsep dan nilai uang yang kita imajinasikan bersama, uang hanyalah selembar kertas. Kita tak akan dapat bertransaksi tanpa abstraksi nilai tukar barang yang kita jual. 

Kemampuan komunikasi telah berhasil mengantarkan manusia ke puncak peradaban. Namun, miskomunikasi dapat berakibat fatal. Miskomunikasi dapat menyebabkan konflik-konflik mematikan yang sebetulnya bahkan tak perlu terjadi. Miskomunikasi adalah perbedaan persepsi antara yang diterima penerima pesan dengan yang diberikan oleh penyampai pesan. 

Kaum liberal-institusionalis berargumen bahwa politik internasional yang konfliktual disebabkan oleh kurangnya komunikasi antar negara sehingga negara tak tau pasti niat dari negara lainnya. Ketika misalnya Iran membangun bom nuklir, tanpa komunikasi yang lancar, Arab Saudi akan berasumsi bom nuklir tersebut akan digunakan Iran untuk menyerang dirinya. Oleh itu, liberal-institusionalis mempromosikan pembentukan institusi internasional sebagai ruang komunikasi antar negara. Asumsi liberal-institusionalis memang dibentuk di level politik internasional, tetapi kita bisa saja menginterpretasikan asumsi mereka untuk level interpersonal. Intinya adalah, perbanyak intensitas komunikasi agar tidak terjadi miskomunikasi. 

Perkembangan teknologi telah berhasil memangkas jarak geografis. Tak seperti dulu di mana mengirimkan pesan dari satu benua ke benua lainnya memakan waktu berbulan-bulan, kini individu yang terpisah jarak ribuan kilometer dapat berkomunikasi dengan instan via berbagai aplikasi chatting. Whatsapp, Line dan group Facebook berfungsi sebagai platform komunikasi hubungan interpersonal, serupa United Nations General Assembly bagi hubungan internasional. 

Teknologi memecahkan masalah jauh dan lamanya jarak dan waktu tempuh sebuah pesan. Dengan komunikasi dua arah yang berlangsung instan, akankah teknologi memecahkan masalah miskomunikasi? 

Semantik?

Meski kemajuan teknologi dapat memecahkan masalah jarak, cara komunikasi manusia masih tak banyak berubah. Teknologi dapat menyampaikan pesan secara instan melewati jarak tempuh yang sangat jauh, tetapi isi dari pesan yang disampaikan tak jauh berubah. Bahasa yang digunakan pun tak jauh berbeda dibandingkan ratusan tahun lalu. 

Pesan masih terdiri dari gabungan kata-kata. Setiap kata mengandung suatu konsep yang ingin disampaikan penyampai. Pesan yang disampaikan, baik melalui surat, kode morse, maupun Whatsapp, masih berbentuk sedemikian rupa. Kecanggihan teknologi meningkatkan intensitas komunikasi tetapi bukan berarti miskomunikasi tidak lagi terjadi. Selagi komunikasi masih disampaikan melalui medium bahasa tampaknya miskomunikasi masih akan mewarnai interaksi manusia. 

Miskomunikasi terjadi ketika penerima pesan memiliki persepsi berbeda dengan penyampai. Kadangkala, konflik terjadi bukan karena dua pihak memiliki tujuan yang tidak selaras. Mungkin saja kedua belah pihak menginginkan hal yang sama, tapi terjadi miskomunikasi yang membangun persepsi bahwa tujuan kedua pihak bertentangan. 

Manusia berkomunikasi dengan kata-kata. Kata adalah penanda (signifier) untuk menandai yang ditandai (signified). Kata mengandung suatu konsep. Ketika konsep yang melekat pada suatu kata berbeda antar-individu, maka perbedaan persepsi akan sering terjadi. 

Sebagai illustrasi konflik akibat perbedaan persepsi, saya akan menceritakan pengalaman saya mencari rumah kontrakan bersama teman-teman. Berbagai kriteria kontrakan ideal menurut pendapat masing-masing telah kami catat dan ternyata beberapa kriteria tersebut tidak sesuai, malah saling bertentangan. Contoh, A menginginkan rumah yang luas tetapi B menginginkan rumah yang minimalis saja. C menginginkan rumah kontrakan dekat dari kampus sementara D menginginkan rumah yang jauh. Daftar kriteria yang kami catat sendiri itu menyulut konflik. Kami menginginkan hal yang berbeda. Sebelum konflik sempat memanas, seorang alumni SMA kami menunjukkan suatu rumah yang sedang dikontrakkan dan ternyata kami semua setuju. Ternyata luas menurut A adalah minimalis menurut B. Dekat menurut C sama dengan jauh menurut D. Perbedaan konsep yang kita lekatkan pada suatu kata kadangkala menyebabkan konflik yang dapat dihindari. 

Selain perbedaan makna yang melekat pada suatu kata,keterbatasan bahasa dan kosa kata seorang individu, kelompok maupun bangsa, sangat mungkin menyebabkan konflik berdarah. Seringkali kita menginginkan sesuatu, tetapi karena keterbatasan bahasa, kita tidak bisa mengartikulasikan keinginan kita secara spesifik, lalu kita mencari kata dengan makna terdekat dan menggunakan kata itu. Dalam konteks seorang turis asing yang ingin memesan makanan di warung nasi misalnya, hal ini sering terjadi. Turis tersebut ingin meminta ikan, tapi apa daya, ia lupa kata ikan. Ia harus puas dengan tempe yang ia dapat. 

Tempe dan ikan mungkin bukan merupakan miskomunikasi yang dapat menyebabkan konflik yang fatal. Namun, apa jadinya jika kejadian serupa terjadi di level negara-bangsa? Ibaratkan suatu daerah terbelakang, sebut saja Provinsi A. Provinsi A tidak puas dengan perhatian yang diberikan pemerintah pusat di daerahnya. Ia juga merasa terkekang dengan regulasi pemerintah pusat yang tak sesuai dengan budaya dan agamanya. Mereka menginginkan solusi dari pemerintah pusat. Maka, berangkatlah delegasi Provinsi A ke ibu kota untuk menyampaikan keluhannya. Keterbatasan bahasa serta pengetahuan membuatnya berkata “Kami ingin merdeka!” padahal ia tak ingin merdeka. Pemerintah pusat yang kini merasa terancam oleh gerakan separatisme Provinsi A tak bisa tinggal diam. Pemerintah mengirimkan pasukan, membantai rakyatnya sendiri di Provinsi A. Ribuan nyawa melayang akibat keterbatasan bahasa dalam komunikasi. Andai saja Provinsi A memiliki kata yang secara tepat dapat mewakili perasaan mereka, mungkin konflik berdarah tersebut tak perlu terjadi. 

Beyond language? 

Miskomunikasi yang saya jelaskan di atas terjadi dalam komunikasi antar individu dengan bahasa yang sama. Oleh itu, universal language bukanlah solusi. Universal language masih akan terdiri dari kalimat, kata, aksara serta konsep yang dilekatkan padanya. Perkembangan emoticon dan sticker sebagai fitur dalam aplikasi chatting seperti Whatsapp dan Line juga tak merevolusi komunikasi manusia. Emoticon dan sticker masih merupakan semantik. Ia mengandung suatu makna awal. Tetapi individu berbeda, dengan budaya berbeda, akan memaknainya secara berbeda pula. Sebagai contoh, emoticon “sekedar mengingatkan” telah mengalami pergeseran makna. 

Untuk menyelesaikan masalah miskomunikasi, manusia membutuhkan suatu universal understanding, entah bagaimana caranya.


Artikel ini terinspirasi dari obrolan bersama Aldy Pratama dan Fathan Mustaghfirin



Referensi:

Yuval Noah Harari, Sapiens: A Brief History of Mankind, McClelland & Stewart, 2016

Fung Yu lan, A short history of Chinese philosophy, The MacMillan Company, 1958



Gambar sampul: Pixabay/geralt


KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Bahasa, Miskomunikasi dan Konflik
Bahasa, Miskomunikasi dan Konflik
Pesan masih terdiri dari gabungan kata-kata. Setiap kata mengandung suatu konsep yang ingin disampaikan penyampai. Pesan yang disampaikan, baik melalui surat, kode morse, maupun Whatsapp, masih berbentuk sedemikian rupa. Kecanggihan teknologi meningkatkan intensitas komunikasi tetapi bukan berarti miskomunikasi tidak lagi terjadi.
https://4.bp.blogspot.com/-EXcixlXD97Y/XCcW8DY4RHI/AAAAAAAAMCA/0qE13tqheQEQra9bLM0v8KXsId1kZpSwQCLcBGAs/s320/silhouettes-141366_1920.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-EXcixlXD97Y/XCcW8DY4RHI/AAAAAAAAMCA/0qE13tqheQEQra9bLM0v8KXsId1kZpSwQCLcBGAs/s72-c/silhouettes-141366_1920.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2019/01/bahasa-miskomunikasi-dan-konflik.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2019/01/bahasa-miskomunikasi-dan-konflik.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy