Politisasi Kata Kata

A khir-akhir ini sering sekali kita mendengar liputan politik dari media-media arus utama terkait kata-kata yang dilontarkan para po...


Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar liputan politik dari media-media arus utama terkait kata-kata yang dilontarkan para politisi. Liputan yang kami maksud adalah liputan mengenai pernyataan dalam pidato atau komentar para politisi seperti istilah atau frasa “sontoloyo”, “politik genderuwo”, “tampang boyolali”, “buta dan budek” serta pertanyaan retoris seperti “50 ribu dapat apa?”. 

Sayangnya, seringkali media hanya meliput pernyataan tersebut tanpa konteks dan diterjemahkan secara literal tanpa mengungkap makna tersirat dari pernyataan-pernyataan tersebut. Konteks pernyataan serta makna tersirat yang sebenarnya dapat menjadi bahan diskusi kebijakan publik yang produktif segera tergeser. Kata-kata yang dibaca secara literal tersebut digunakan untuk membantai karakter politisi yang mengatakannya.

Sebagai contoh, pernyataan “tampang boyolali” yang dilontarkan Prabowo memiliki makna yang cukup mendalam. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks kritik terhadap pembangunan yang hanya menguntungkan elit borjuis. Berikut cuplikan pidato Prabowo.

"...Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini."

“Tampang orang boyolali” hanyalah merupakan suatu pengandaian orang-orang miskin yang menjadi korban ketimpangan, ditunjukkan dengan pembangunan hotel-hotel mewah yang tidak akan pernah dirasakan oleh para orang-orang miskin. Namun, pembahasan politik mengenai isu ketimpangan segera dilupakan. Pembahasan media dan para netizen fokus pada kata “boyolali”. Prabowo mendiskriminasi orang boyolali, katanya.

Obsesi pada ‘fact-checking’ semakin mengancam diskusi produktif. Ketika masyarakat menangkap pertanyaan retoris “50 ribu dapat apa?”, makna tersirat dari komentar tersebut terlupakan. Salah satu anggota partai bro-sis mengundah video berbelanja di pasar dengan uang 50 ribu rupiah. Konklusinya? 50 ribu dapat membeli ayam, tempe, tahu dan bumbu dapur. Berbekal riset kecil-kecilan tanpa liputan kamera, saya juga dapat menarik kesimpulan serupa. Saya dapat membeli 100 kerupuk dari kotak kaleng di burjo. Ketika “50 ribu dapat apa?” dianggap pertanyaan, maka berbagai jawaban dapat saya berikan. Dengan kesimpulan tersebut, netijen bertubi-tubi menghujat Titik Soeharto. “Fact check!” katanya. Tetapi jika kita sedikit ber-husnudzon dan mendalami makna tersiratnya, mungkin beliau ingin menyorot kenaikan harga barang yang kian parah atau mungkin terkait perhitungan UMR yang belum tepat.

Lidah adalah pedang. Senjata makan tuan. Selain menjadi senjata pembunuhan karakter, kata-kata perumpamaan para politisi dan tokoh politik juga dijadikan alat untuk mempidanakannya. Ahok dipidanakan dengan pasal penistaan agama atas kritiknya terhadap suatu agama tertentu. Kini, Habib Bahar bin Smith dipidanakan pula. Salahnya? Menghina presiden dengan sebutan “Banci”. Banci dianggap hinaan. Saya juga tak mengerti mengapa kata banci diasosiakan dengan sifat pengecut, padahal banci berani melawan stigma. 

Artikel di Tirto berjudul “Selamat Datang di Pilpres yang Sudutkan Kaum Rentan dan Disablilitas” mengomentari gaya komunikasi para politisi. Beberapa frasa yang dikutip di artikel datang dari beberapa tokoh publik. Diantaranya kutipan dari Calon Wakil Presiden, Ma’ruf Amin.

“Orang sehat bisa melihat jelas prestasi Pak Jokowi, kecuali orang yang matanya buta atau telinganya budek, tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat kenyataan"

Selain itu, @AndiArief_, dikutip mengatakan

“Mereka yang buta dan budeg adalah yang tidak mengerti Indonesia terancam konflik besar akibat politik bipolar. Kita harus segera hijrah dari negara dengan politik bipolar menjadi negara persatuan.”

Memang mungkin komentar yang diangkat di artikel tersebut memang benar. Gaya komunikasi politik perlu diperbaiki agar dapat menyampaikan topik bahasan secara tersurat. Saya juga setuju bahwa sebaiknya politisi tidak menyudutkan kaum rentan dan melanggengkan stereotip terhadap golongan tertentu. Tetapi liputan yang fokus membahas gaya komunikasi suatu tokoh juga sangatlah tidak produktif. Banyak poin-poin penting yang dapat dibahas tetapi terlewatkan akibat fokus pada istilah dan gaya komunikasi para tokoh. Fokus pada permasalahan ketimpangan, daya beli masyarakat, kinerja presiden serta polarisasi politik akan jauh lebih berguna. 





Referensi

Felix Nathaniel, “Selamat Datang di Pilpres yang Menyudutkan Kaum Rentan dan Disabilitas”, Tirto.id, https://tirto.id/selamat-datang-di-pilpres-yang-sudutkan-kaum-rentan-amp-disabilitas-c9UY

Kristian Erdianto, “Istilah "Tampang Boyolali", Prabowo Kritik Ketimpangan Sosial", Kompas, https://nasional.kompas.com/read/2018/11/05/06185881/jubir-istilah-tampang-boyolali-prabowo-kritik-ketimpangan-sosial.


Gambar Sampul: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/hp.

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Politisasi Kata Kata
Politisasi Kata Kata
https://4.bp.blogspot.com/-SmrcxjorjN8/XByMN97LhtI/AAAAAAAALoQ/wcHQWojuI20tPZz0vTNf9nGsxPZBSTopACLcBGAs/s320/maruf-amin-menerima-forum-santri-indonesia-pjek5d-prv.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-SmrcxjorjN8/XByMN97LhtI/AAAAAAAALoQ/wcHQWojuI20tPZz0vTNf9nGsxPZBSTopACLcBGAs/s72-c/maruf-amin-menerima-forum-santri-indonesia-pjek5d-prv.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2018/12/politisasi-kata-kata.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2018/12/politisasi-kata-kata.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy