Imajinasi Dunia Tanpa Kerja

Kamu, besar nanti mau jadi apa?” terkesan pertanyaan simple dan awam yang kita tanyakan pada anak di usia TK. Bahkan pertanyaan ini ...


Kamu, besar nanti mau jadi apa?” terkesan pertanyaan simple dan awam yang kita tanyakan pada anak di usia TK. Bahkan pertanyaan ini dijadikan lirik lagu dangdut. “Waktu aku kecil mamaku bertanya kalua besar nanti mau jadi apa? Polisi polisi polisi” begitulah kata Nella Kharisma dalam dendangnya yang berjudul “Polisi”. Ya, itu jawaban yang kita ekspektasikan ketika kita bertanya pertanyaan di atas. Polisi, dokter, insinyur, Youtuber dan pekerjaan lainnya.

Pertanyaan simple ke anak TK tadi menunjukkan betapa mandarah dagingnya logika pikir kapitalisme dalam kehidupan kita. Ketika sang anak menjawab “mau jadi orang baik”, kita anggap itu sebagai guyonan belaka. “Jadi apa” yang kita imajinasikan adalah “jadi <insert pekerjaan>”. Program televisi “Jika aku menjadi”-pun menempatkan pekerjaan di setiap judulnya. Judulnya “Jika aku menjadi pencari kijing” bukan “Jika aku menjadi orang baik” atau “Jika aku menjadi depresi”. Otak kita dikonstruksi untuk berpikir bahwa “menjadi” itu haruslah pekerjaan. Our “being” is our work.

Imajinasi kita sebatas menjadi seorang pekerja yang menghasilkan produktifitas yang diukur berdasarkan uang. “Menjadi” haruslah sesuatu yang menghasilkan uang. Jika tidak menghasilkan uang, maka tidak “menjadi” yang seharusnya. Dalam logika masyarakat kapitalisme, kita seharusnya menjadi dokter atau insinyur, bukan menjadi gila atau bahagia. Gila dan bahagia tidak menghasilkan uang.

Ketika pekerjaan menjadi “menjadi” atau “being”, maka identitas kita, dan anak-anak TK tadi melekat pada pekerjaannya. Begitu pula bagaimana kita dan anak TK tadi melihat orang lain. Persona menjadi tidak relevan. Pak Budi adalah dosen, dosen adalah Pak Budi. Pak Budi bukanlah Pak Budi. Pak Budi adalah dosen. Kita tidak memperdulikan siapa dia di luar pekerjaannya. Pak Budi mungkin suka bermain bola atau merupakan seniman. Namun selagi bermain bola dan berseni hanya sebatas hobi dan bukan profesi, kita tidak peduli, yang kita tau Pak Budi adalah dosen.

Stereotip pekerjaan dan status sosialnya pun melekat ke identitas sang pekerja. “Menantunya Bu Siti itu Pak Guru, loh!”. Tidak jauh bedanya dengan identifikasi ras maupun agama. Apa bedanya “kamu jangan pacaran sama dia, dia kuli bangunan” ketimbang “kamu jangan pacaran sama dia, dia Kristen”. Label, apapun itu, mereduksi kemanusiaan. Dia bukan manusia seutuhnya, dia hanyalah <pekerjaannya>.

Setiap orang mempunyai label. Suatu label yang mereka identifikasikan sendiri, anehnya, dengan bangganya. Sangat bangganya seseorang mencantumkan gelar ‘dr.’ di surat undangan pernikahan, ya. Menganggur adalah hina, memalukan. Seolah tak punya tujuan hidup.

Tanpa kita sadari, identifikasi manusia ke pekerjaan merupakan suatu hal yang rentan. Fragile. Sejak revolusi industri, pekerjaan muncul. Hampir setiap orang mempunyai pekerjaan. Baik pekerja buruh pabrik maupun karyawan kantoran, semuanya mempunyai pekerjaan. Orang yang menganggur itu yang malas, katanya. Imajinasi kerja pun berkembang di era ini. Minoritas pengangguran pun depresi karena tak punya identitas.

Masalahnya, teknologi semakin berkembang, bung. Jika dulu, buruh mengalami ancaman eksploitasi, kini buruh mengalami ancaman baru, irrelevansi. Bagaimana tidak, perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kian maju semakin menggerus kesempatan kerja. Dulu buruh pengepakan di pabrik-pabrik digantikan mesin. Kini, dokter pun akan diganti mesin. Tak ada yang aman. Pengangguran yang kini minoritas pun sebentar lagi menjadi mayoritas.

Dalam menghadapi krisis ini, dunia sudah mulai mencari solusi. Salah satunya, universal basic income (UBI). Sistem di mana semua rakyat, baik bekerja maupun tidak diberikan sejumlah uang dari pemerintah, cukup untuk bertahan hidup tanpa kerja. Mekanisme seperti ini membutuhkan modal politik yang kuat untuk memaksa perusahaan besar membayar pajak yang lebih besar untuk membiayai hajat hidup masyarakat yang bergantung UBI ini.

Masalahnya, solusi seperti ini tak akan terpikir jika kita melulu mem-fetisisasi pekerjaan. Pasti yang dikatakan motivator adalah “ayo jangan malas, cari kerja” atau politisi yang baik pun akan berkata “kita harus memperluas lapangan kerja”. Kita sangat benci pada ke-santai-an dan hari libur. Pokoknya kerja. “Kerjanya di kos melulu. Kapan kerjanya dia itu?”. Cara pandang kita masih bersifat victim-blaming, “kalau tak kerja itu namanya malas, tak peduli apa sebabnya”.

Konklusinya, di dunia penuh ketidak pastian kerja, bagaimana bisa kita bertahan dengan imajinasi kerja seperti sekarang. Jika kita masih mengukur nilai manusia dari kapasitas produksi, akan banyak yang tereksklusi. Populasi manusia tanpa label semakin meningkat, bro! Untuk mengatasi krisis ini, kita butuh imajinasi dunia pasca-kerja. Dunia pasca-kerja adalah kata yang saya buat-buat karena saya belum menemukan terjemahan resmi-nya. Bahasa Inggris-nya post-work world! Kita butuh imajinasi bahwa “menjadi” tidak harus pekerjaan dalam arti tradisional. Kita patut menormalisasi jawaban “menjadi orang baik” dan tak mengkucilkan bocah TK yang menjawab demikian. Ia bukan tak paham, ia visioner, tak terperangkap cara pikir kapitalisme seperti anda.

Tanpa reimajinasi dunia pasca-kerja, kalau ditanya “kalau besar nanti mau jadi apa?”, di era irrelevansi manusia akibat teknologi, lebih baik jawab “jadi gila aja”.



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi:

Yuval Noah Harari, 21 Lessons for 21st Century

Andy Becket, Post-work: the radical idea of world without jobs,  The Guardian, https://www.theguardian.com/news/2018/jan/19/post-work-the-radical-idea-of-a-world-without-jobs

Gambar sampul: Antara Foto
https://www.antarafoto.com/bisnis/v1544953830/upah-buruh-tani




KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Imajinasi Dunia Tanpa Kerja
Imajinasi Dunia Tanpa Kerja
https://2.bp.blogspot.com/-WYolBgNnQRw/XB2Ot0V9JzI/AAAAAAAALos/wDTucmZhZIgNWz7srVGCJzt0p-rXm4WaQCLcBGAs/s320/upah-buruh-tani-pjtq06-prv.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-WYolBgNnQRw/XB2Ot0V9JzI/AAAAAAAALos/wDTucmZhZIgNWz7srVGCJzt0p-rXm4WaQCLcBGAs/s72-c/upah-buruh-tani-pjtq06-prv.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2018/12/imajinasi-dunia-tanpa-kerja.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2018/12/imajinasi-dunia-tanpa-kerja.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy