Dehumanisasi: Label “Cebong” dan “Kampret” dalam Diskursus Politik Indonesia

Sepuluh tahun lalu, cebong atau berudu hanyalah tahap pra-dewasa dalam daur hidup amfibia. Selain itu, kampret adalah anak kelelawar dan onta adalah hewan padang pasir. Kini, cebong adalah pendukung Jokowi sementara kampret dan onta adalah pendukung Prabowo.



Sekitar 20-30 tahun lalu, ketika mendengar kata ‘Apple’, kita membayangkan buah Apel. Kini, ketika anda mendengar kata ‘Apple’, sudah pasti anda membayangkan sebuah smartphone premium dengan harga selangit. Pergeseran makna bukan hanya terjadi pada kata ‘Apple’ tetapi juga pada kata “cebong” dan “kampret”. Sepuluh tahun lalu, cebong atau berudu hanyalah tahap pra-dewasa dalam daur hidup amfibia. Selain itu, kampret adalah anak kelelawar dan onta adalah hewan padang pasir. Kini, cebong adalah pendukung Jokowi sementara kampret dan onta adalah pendukung Prabowo.

Berdasarkan riset singkat yang belum tentu reliable, asal usul label cebong adalah kebiasaan Presiden Jokowi yang memelihara kodok di Istana Kepresidenan. Sementara label kampret, hewan yang mempunyai otak dan hati yang kecil disematkan pada pendukung Prabowo karena dianggap memiliki karakteristik serupa. Pendukung Prabowo juga dilabeli onta, hewan padang pasir yang merepresentasikan ke-araban, suatu stereotip yang juga melekat pada pendukung Prabowo.

Selain cebong, kampret dan onta, berbagai label nyinyir lainnya digunakan untuk saling menghina oleh kubu yang bertentangan ini. BBC Indonesia, dalam artikelnya, “Kamus Nyinyir ‘Pilkada Jakarta’ yang dipakai di media sosial”, menyediakan kompilasi julukan yang dipakai para netijen untuk saling menghina. Beberapa diantaranya: “si mulut jamban”, “motivator”, “kaum kafirun dan munafikun”, “kaum bumi datar” dan “bani taplak dan bani serbet”.

Sekilas, label ini dianggap sekadar nyinyiran yang tidak berbahaya tetapi dibalik nyinyiran tersebut suatu manipulasi psikologi sedang terjadi. Sekitar 25 tahun lalu, 500,000-1,000,000 jiwa menjadi korban genosida di Rwanda. Jauh sebelum genosida tersebut berlangsung, kelompok Hutu melabeli kelompok Tutsi sebagai ‘inyenzi’ yang dalam Bahasa Indonesia berarti ‘Kecoak’. Belum diketahui perbedaan dampak dari perbedaan spesies hewan sebagai label. Namun, pada dasarnya, nama hewan yang digunakan untuk melabeli suatu kelompok adalah upaya dehumanisasi.

Dalam Moral Disengagement in The Perpetration of Inhumanities, Albert Bandura memaparkan delapan bentuk moral disengagement, salah satunya adalah dehumanization atau dehumanisasi. Bandura menjelaskan bahwa manusia mempunyai moral agency, suatu kekuatan untuk menahan diri dari berperilaku tidak manusiawi. Namun, moral disengagement dapat menjadi cara untuk membuat-buat alasan dan justifikasi untuk melakukan perilaku imoral.

Manusia memperlakukan manusia lainnya dengan manusiawi. Melalui pengalaman interpersonal, manusia membangun persepsi bahwa mereka sama-sama mengalami perasaan sukacita dan penderitaan bersama. Manusia secara inheren memiliki yang disebut human qualities. Dehumanisasi melucuti targetnya dari human qualities tersebut. Ia mereduksi manusia sebagai sub-humans.

Menyebut kubu pendukung Jokowi sebagai ‘cebong’ dan pendukung Prabowo sebagai ‘kampret’ memanipulasi psikologis kita untuk melihat mereka bukan sebagai manusia seutuhnya tetapi sebagai hewan-hewan tersebut atau setidaknya sebagai manusia yang serupa dengan hewan tersebut.

Akan sangat susah kita, sebagai manusia normal, membayangkan diri kita membunuh, melakukan penyiksaan atau setidaknya mem-bully manusia lainnya. Tetapi sehari-hari, kita, atau setidaknya saya, mengganggu kecebong dengan mengobok-obok air di selokan depan SD. Kita juga terbiasa melihat penyembelihan hewan ternak seperti unta dan menikmati kelezatan dagingnya. Dengan menyerupakan kubu pendukung Jokowi dan Prabowo sebagai hewan yang sehari-hari kita siksa, akan lebih mudah masyarakat untuk saling membunuh dan menyiksa.

Di Rwanda, majalah Kangura mewartakan suatu artikel editorial berjudul “A cockroach cannot bring forth a butterfly”. Publikasi ini melabeli semua warga Tutsi sebagai “kecoak” yang keji, kotor dan licik. Akibatnya, manusia dari kelompok Hutu kehilangan akal sehatnya dan kemudian membasmi manusia lainnya dari kelompok Tutsi bak membasmi kecoak. Estimasi 500,00-1,000,000 jiwa melayang akibat genosida tersebut. Nazi di Jerman menggunakan teknik serupa. Mereka melabeli kaum Yahudi sebagai ras inferior yang layak dibasmi. Enam juta Yahudi terbunuh dalam kurun waktu enam tahun holocaust.

Mungkin memperingatkan masyarakat akan bahaya dehumanisasi dari label “cebong” dan “kampret” terkesan berlebihan. Namun, bukan tidak mungkin bully-an di internet tersebut bertransformasi menjadi pertempuran fisik. Perilaku netijen sudah menunjukkan bahwa netijen melakukan tindak bullying yang sehari-hari tidak mereka lakukan dan bahkan tidak mereka toleransi.

Untuk mencegah konfrontasi lanjutan yang dapat berakibat fatal, beberapa tindakan perlu dilakukan. Pertama, media setidaknya tidak ikut-ikutan dalam memproliferasi label tersebut. Kedua, tokoh-tokoh politik sebagai public figure yang dianggap role model masyarakat setidaknya tidak menunjukkan contoh buruk. Tindakan Prabowo yang melarang pendukungnya menggunakan kata “cebong” patut diapresiasi. Ketiga, mari kita me-reclaim kata “cebong” dan “kampret” dengan membahas diskusi ilmiah biologi tentang siklus hidup katak dan kelelawar.

Peace peace!



Referensi

Ndahiro, Kennedy. Dehumanisation: How Tutsi were reduced to cockroaches, snakes to be killed, https://www.newtimes.co.rw/section/read/73836, 13 Maret 2014

Hamby, Sherry. What Is Dehumanization, Anyway?. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-web-violence/201806/what-is-dehumanization-anyway. 21 Juni 2018

Bandura, Albert. Moral Disengagement in The Perpetration of Inhumanities. 1999. Personality and Social Psychology Review. Vol. 3, 193-209.

Gambar sampul oleh: Tribunnews

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Dehumanisasi: Label “Cebong” dan “Kampret” dalam Diskursus Politik Indonesia
Dehumanisasi: Label “Cebong” dan “Kampret” dalam Diskursus Politik Indonesia
Sepuluh tahun lalu, cebong atau berudu hanyalah tahap pra-dewasa dalam daur hidup amfibia. Selain itu, kampret adalah anak kelelawar dan onta adalah hewan padang pasir. Kini, cebong adalah pendukung Jokowi sementara kampret dan onta adalah pendukung Prabowo.
https://1.bp.blogspot.com/-GG2uAdrNd68/XBYXB7uqimI/AAAAAAAALm4/n78Nsg7rV-UEtBwF24X6kjrJRlxaRE3EQCLcBGAs/s320/jokodok.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-GG2uAdrNd68/XBYXB7uqimI/AAAAAAAALm4/n78Nsg7rV-UEtBwF24X6kjrJRlxaRE3EQCLcBGAs/s72-c/jokodok.jpg
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2018/12/dehumanisasi-label-cebong-dan-kampret.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2018/12/dehumanisasi-label-cebong-dan-kampret.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy