Bencana jurnalisme kembali terulang

Bencana alam kembali melanda tanah air. Kami turut berduka cita atas bencana tsunami di Selat Sunda. Bagi korban dan keluarga, semoga d...


Bencana alam kembali melanda tanah air. Kami turut berduka cita atas bencana tsunami di Selat Sunda. Bagi korban dan keluarga, semoga diberi kekuatan dan kesabaran, terutama dalam menghadapi insensitifitas pelaporan media terkait bencana ini. 

Bencana alam memang kadang tak terhindarkan. Namun, praktik buruk jurnalisme bencana dapat dihindari tetapi kerap kali dengan sengaja diulang. Remotivi sudah menerbitkan artikel berjudul “Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar” pada tahun 2014. Artikel tersebut ditulis oleh Ahmad Arif, wartawan Kompas, juga penulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme. Topik serupa dibahas Vice di artikel sarkas “Panduan Menulis Berita Bencana ala Indonesia Agar Kau Hilang Empati dan Doyan Mengksploitasi Korban” yang terbit pada pertengahan tahun ini, bertepatan bencana tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Sumatera Utara. Sebulan yang lalu, topik serupa diangkat di user story Kumparan, dengan judul Perasaan dan Firasat dalam Jurnalisme Indonesia".

Meski berkali-kali diperingatkan, media Indonesia terus melakukan kejahatan yang sama. Dalam liputan bencana tsunami Selat Sunda yang baru saja terjadi dua hari yang lalu, saya sendiri sudah melihat beberapa kasus praktik serupa baik di televisi maupun media daring. Saat menulis artikel ini, baru saja saya mendengar liputan tv One yang mewawancarai keluarga korban. Latar belakang korban sebagai selebriti, personel band Seventeen, terus dieksploitasi. Istri korban dicecar pertanyaan standar tak relevan seperti "Apakah ada firasat sebelumnya?" dan "Bagaimana perasaan keluarga korban?". Hasilnya diterbitkan sebagai artikel dengan judul yang mengundang klik. IDN Times bahkan merilis artikel "Perilaku Janggal Herman Seventeen Sebelum Jadi Korban Tsunami Banten”. Media daring, Brilio, menerbitkan artikel dengan judul ciri khasnya, “7 Seleb ini meninggal karena tsunami Banten, duka mendalam”. Entah apa gunanya mencatut latar belakang korban sebagai seleb selain menarik klik dan menjadi komoditas. 


Tribunnews, merilis artikel “Unggahan Terakhir 5 Korban Meninggal Tsunami Banten, Aa Jimmy hingga Herman Seventeen”. Tribun mengulik-ulik akun media sosial orang-orang yang baru wafat. Bahkan menerbitkan artikel seperti ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Tribun. Sebelumnya, Tribun sudah dikritisi dalam artikel Remotivi, “Peliputan Lion Air: “Human Interest” yang tak humanis”. Dalam meliput jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Tribun timur menerbitkan artikel “7 Potret Citra Puteri, Pramugari Lion Air yang Turut Jadi Korban Pesawat Jatuh”. Di artikel tersebut, Tribun hanya mengunggah foto dari akun Instagram pribadi korban ditambah beberapa baris tulisan yang juga tidak informatif. 

Bencana jurnalisme yang kerap kali terulang tampaknya bukan tidak disengaja. Terdapat unsur kesengajaan, sebagaimana kutipan di artikel Ahmad Arif di Remotivi, 
Kenapa amis darah dan air mata begitu lekat dengan jurnalisme bencana di Indonesia? Saya melihat akar masalah dari tampilnya tayangan seperti ini adalah cara pandang media yang memberlakukan korban bencana sebagai komoditi belaka. Dengan sudut pandang ini, maka bad news is good news. Semakin pedih tangisan korban, sebuah tayangan akan dianggap semakin "hebat". Atau, dalam bahasa lain, semakin liar perang, semakin banyak kematian akibat bencana alam dan wabah, semakin banyak kelaparan, sebuah berita dianggap akan semakin "dramatis" dan akan melonjakkan rating. Kenaikan rating berati iklan, dan semakin banyak iklan berarti semakin banyak laba
Jurnalisme seperti ini tak punya nilai berita dan sungguh tidak mendidik. Banyak angle berita yang sebaiknya lebih dieksplorasi media. Misalnya, di Twitter, warganet kembali mengangkat artikel BBC beberapa bulan lalu mengenai penelitian ilmiah terkait potensi tsunami di Selat Sunda tetapi kemudian dipolisikan akibat meresahkan. Menggali arsip-arsip media terkait topik tsunami tentu jauh lebih berguna daripad menggali Instagram korban. Investigasi lebih lanjut terkait kontroversi ini jauh lebih produktif ketimbang wawancara keluarga korban. Investigasi Tirto dan Beritagar di kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dua bulan lalu sangat perlu diapresiasi dan dijadikan contoh untuk peliputan bencana kedepannya.

KOMENTAR

Nama

2018 in review,1,Ekonomi,13,ENG,7,Hubungan Internasional,5,Infografik,1,Kacamata,7,Kesehatan,1,Mata,19,Media,7,Mikroskop,2,Must Read,7,Newsletter,1,Santai,3,Sosial dan Politik,18,
ltr
item
Akyan.ID: Bencana jurnalisme kembali terulang
Bencana jurnalisme kembali terulang
https://2.bp.blogspot.com/-Cw2ntfo1Oyg/XCBhQOmPLOI/AAAAAAAALpc/kBoJXViXmvUQ-r0_13foZ_uS61yAgFy3wCLcBGAs/s320/Artboard%2B1%25402x.png
https://2.bp.blogspot.com/-Cw2ntfo1Oyg/XCBhQOmPLOI/AAAAAAAALpc/kBoJXViXmvUQ-r0_13foZ_uS61yAgFy3wCLcBGAs/s72-c/Artboard%2B1%25402x.png
Akyan.ID
https://www.akyan.id/2018/12/bencana-jurnalisme-kembali-terulang.html
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/
https://www.akyan.id/2018/12/bencana-jurnalisme-kembali-terulang.html
true
1737985718176321393
UTF-8
Semua pos dimuat Tidak menemukan satu pun pos LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN POS Lihat Semua DIREKOMENDASIKAN LABEL ARSIP CARI SEMUA POS Tidak menemukan pos yang sesuai Ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu Pengikut Ikuti AKSES KONTEN DIBATASI TAHAP 1: Bagikan. TAHAP 2: Klik tautan yang Anda bagikan untuk membuka. Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode disalin ke papan klip Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy